apa yang mengingatkan kita pada 21 april? seperti sudah terprogram di kepala pasti banyak dari kita yang menyebut kartini... emansipasi wanita... atau teringat dengan balutan kebaya beludru berwarna gelap, lengkap dengan kain batik dan di tambah dengan konde bulat, besar yang menutup bagian belakang kepala... atau mungkin kembali mengingat masa lalu saat di sekolah dasar mengikuti karnaval pakaian adat, kebaya atau lomba-lomba yang menunjukkan sisi kefemeniman. selalu ada saja cara untuk mengenang kartini, tokoh emansipasi wanita indonesia itu.
setiap 21 april datang, saya pasti langsung teringat kartini dan masa kecil saat SD yang merasa tersiksa memakai kebaya beludru berwarna gelap dan konde jawa yang memperlihatkan sempurnanya ’lapangan golf’ di jidat saya ketika duduk di bangku kelas 4 atau 5. sambil menyanyikan lagu ’ibu kartini’ saat upacara hari kartini, saya membayangkan kartini seperti lirik yang saya nyanyikan bersama seluruh teman satu sekolah. kartini adalah seorang putri sejati, putri indonesia yang harum namanya. selain itu juga seorang pendekar bangsa, pendekar kaum wanita untuk merdeka, seorang putri yang mulia, yang cita-citanya sungguh besar untuk negara ini.
ah... sempurna sekali kartini yang saya kenal saat saya kecil. putri bangsawan, kaya raya, bisa berbahasa belanda dan bergaul dengan noni-noni londo pula.
lima belas tahun berlalu. pendapat saya tentang kartini berubah ketika saya banyak membaca buku tentang kartini saat proses tugas akhir. putri bupati yang dulu pernah saya anggap sempurna itu berubah menjadi sebuah keprihatinan ketika banyak hal baru saya ketahui melalui biografi ’kartini --sebuah biografi--’ (bukunya berwarna coklat muda, tebel banget tapi saya lupa siapa pengarangnya, dulu saya meminjamnya pada seorang teman kampus) dan juga melalui ’panggil aku kartini saja’ pramudya ananta toer. setelah membaca kedua buku itu, menurut saya kartini hidup dalam situasi dilematis, dilingkupi pertentangan batinnya sendiri ketika keharusannya hidup sebagai perempuan ningrat jawa berbenturan dengan keinginannya untuk dapat lepas dari kefeodalan yang melingkupi perempuan saat itu. kumpulan suratnya yang saya baca dalam ’habis gelap terbitlah terang’ atau ’aku mau... feminisme dan nasionalisme [kumpulan surat-surat kartini kepada stella zehandelaar 1899-1903]’ banyak menyuarakan perasaan dan isi hatinya yang selalu berbenturan dengan keharusannya mematuhi adat di lingkungannya. banyak pemikiran maju yang ditulis dalam surat-suratnya kepada beberapa orang rekan korespondensinya namun ironisnya, kartini yang sudah mengecap pendidikan dan mempunyai cita-cita tinggi terhadap kemajuan perempuan harus takluk kepada adat yang maemaksanya menerima pinangan sebagai istri kesekian seorang bupati disaat kesempatannya menggapai cita-cita belajar dan keluar dari jepara telah menanti di hadapannya.

saya pernah mempunyai pertanyaan ’nakal’ yang muncul begitu saja setelah saya kenyang melahap buku tentang kartini : ”sebenarnya apa jasa nyata kartini terhadap negara ini?”. saya tahu raden ajeng kartini tidak berjuang melawan penjajah --malahan ia bersahabat dan berkorespondensi dengan banyak orang belanda--. tapi saya saat itu juga langsung mendapat jawaban bahwa memang bukan perjuangan perang-nya lah yang membawa kartini menjadi pahlawan dan tokoh penting di negara ini. kartini adalah pionir. isi hati dan pemikiran tentang perempuan yang tertuang dalam tulisan serta surat-suratnyalah yang pada akhirnya dapat membawa perubahan besar terhadap bangsa ini.
memang perjuangan kartini tidak ’segarang’ wanita-wanita pendahulunya, seperti cut nyak dien atau christina martha tiahahu yang terjun langsung ke medan laga pertempuran, ikut mengangkat senjata dan berada di titik depan pertempuran. tapi saya percaya bahwa pahlawan tidak harus memanggul senjata dan berada di garis depan peperangan. pahlawan adalah ia yang berani berbuat banyak untuk melakukan perubahan berarti bagi orang dan lingkungan sekitarnya.
terimakasih kartini.... buah pemikiran revolusioner tentang emansipasi yang lahir dari seorang wanita yang hidup dalam pingitan adat jawa, saat ini telah memberi kesempatan pada perempuan lain untuk dapat ’berbicara’ dan melakukan banyak hal di luaran sana.
ahhh... andai saja kartini tidak pernah ada, sulit rasanya membayangkan keluar-masuk dan naik-turun proyek dengan kebaya dan konde besar itu... :D
selamat hari kartini untuk semuanya....
setiap 21 april datang, saya pasti langsung teringat kartini dan masa kecil saat SD yang merasa tersiksa memakai kebaya beludru berwarna gelap dan konde jawa yang memperlihatkan sempurnanya ’lapangan golf’ di jidat saya ketika duduk di bangku kelas 4 atau 5. sambil menyanyikan lagu ’ibu kartini’ saat upacara hari kartini, saya membayangkan kartini seperti lirik yang saya nyanyikan bersama seluruh teman satu sekolah. kartini adalah seorang putri sejati, putri indonesia yang harum namanya. selain itu juga seorang pendekar bangsa, pendekar kaum wanita untuk merdeka, seorang putri yang mulia, yang cita-citanya sungguh besar untuk negara ini.
ah... sempurna sekali kartini yang saya kenal saat saya kecil. putri bangsawan, kaya raya, bisa berbahasa belanda dan bergaul dengan noni-noni londo pula.
lima belas tahun berlalu. pendapat saya tentang kartini berubah ketika saya banyak membaca buku tentang kartini saat proses tugas akhir. putri bupati yang dulu pernah saya anggap sempurna itu berubah menjadi sebuah keprihatinan ketika banyak hal baru saya ketahui melalui biografi ’kartini --sebuah biografi--’ (bukunya berwarna coklat muda, tebel banget tapi saya lupa siapa pengarangnya, dulu saya meminjamnya pada seorang teman kampus) dan juga melalui ’panggil aku kartini saja’ pramudya ananta toer. setelah membaca kedua buku itu, menurut saya kartini hidup dalam situasi dilematis, dilingkupi pertentangan batinnya sendiri ketika keharusannya hidup sebagai perempuan ningrat jawa berbenturan dengan keinginannya untuk dapat lepas dari kefeodalan yang melingkupi perempuan saat itu. kumpulan suratnya yang saya baca dalam ’habis gelap terbitlah terang’ atau ’aku mau... feminisme dan nasionalisme [kumpulan surat-surat kartini kepada stella zehandelaar 1899-1903]’ banyak menyuarakan perasaan dan isi hatinya yang selalu berbenturan dengan keharusannya mematuhi adat di lingkungannya. banyak pemikiran maju yang ditulis dalam surat-suratnya kepada beberapa orang rekan korespondensinya namun ironisnya, kartini yang sudah mengecap pendidikan dan mempunyai cita-cita tinggi terhadap kemajuan perempuan harus takluk kepada adat yang maemaksanya menerima pinangan sebagai istri kesekian seorang bupati disaat kesempatannya menggapai cita-cita belajar dan keluar dari jepara telah menanti di hadapannya.

saya pernah mempunyai pertanyaan ’nakal’ yang muncul begitu saja setelah saya kenyang melahap buku tentang kartini : ”sebenarnya apa jasa nyata kartini terhadap negara ini?”. saya tahu raden ajeng kartini tidak berjuang melawan penjajah --malahan ia bersahabat dan berkorespondensi dengan banyak orang belanda--. tapi saya saat itu juga langsung mendapat jawaban bahwa memang bukan perjuangan perang-nya lah yang membawa kartini menjadi pahlawan dan tokoh penting di negara ini. kartini adalah pionir. isi hati dan pemikiran tentang perempuan yang tertuang dalam tulisan serta surat-suratnyalah yang pada akhirnya dapat membawa perubahan besar terhadap bangsa ini.
memang perjuangan kartini tidak ’segarang’ wanita-wanita pendahulunya, seperti cut nyak dien atau christina martha tiahahu yang terjun langsung ke medan laga pertempuran, ikut mengangkat senjata dan berada di titik depan pertempuran. tapi saya percaya bahwa pahlawan tidak harus memanggul senjata dan berada di garis depan peperangan. pahlawan adalah ia yang berani berbuat banyak untuk melakukan perubahan berarti bagi orang dan lingkungan sekitarnya.
terimakasih kartini.... buah pemikiran revolusioner tentang emansipasi yang lahir dari seorang wanita yang hidup dalam pingitan adat jawa, saat ini telah memberi kesempatan pada perempuan lain untuk dapat ’berbicara’ dan melakukan banyak hal di luaran sana.
ahhh... andai saja kartini tidak pernah ada, sulit rasanya membayangkan keluar-masuk dan naik-turun proyek dengan kebaya dan konde besar itu... :D
selamat hari kartini untuk semuanya....








1 comment:
Hello!
Nggak terasa udah mau Hari Kartini lagi ya?
Ini ada artikel tentang Kartini juga, "Hari Kartini, Pahlawan Pendidikan" di cantik40s.blogspot.com.
Si penulis, juga punya blog di facebook, di http://www.facebook.com/pages/Cantik-Selamanya/54526851698:)
Thanks,
AFM
Post a Comment