catatan akhir 2009


2009 hanya tinggal satu setengah hari lagi dan berat rasanya meninggalkan 2009, tahun yang penuh dengan banyak peristiwa penting dalam hidup saya. kalau boleh melirik ke belakang, sepanjang 2009 adalah tahun yang merubah saya dan kehidupan saya. beberapa hal penting yang menjadi catatan tahun ini adalah :
  • tanti mustika is no longer listed as single.  alhamdulillah setelah 8 tahun 9 bulan 11 hari perkenalan (akhirnya) saya menikah. menyatukan ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’ bukanlah proses yang berakhir di pernikahan, namun justru perjalanan panjang yang dimulai setelah menikah. semoga janji dihadapanNya pada 5 juli 2009 itu selalu dapat selalu membuat kami berjalan beriring.
  • alhamdulillah setelah dua bulan menikah saya diberi amanah untuk mengandung. its so amazing bisa merasakan keajaiban setiap hari melalui pertumbuhan janin yang dititipkanNya dalam rahim saya. life is almost perfect as a woman… :)
  • Gusti Allah membukakan satu pintu rejeki untuk saya (dan calon baby ini), dengan memberi saya kesempatan untuk mencoba lahan pekerjaan baru. saat ini memang masih dalam proses, tapi semoga saja saat baby saya lahir nanti, saya sudah bisa berada di tempat lain pada jam kerja.
seperti yang sudah-sudah saya tidak pernah menetapkan resolusi tahun baru. menjalankan tahun baru dengan tetap mempertahankan (syukur-syukur bisa meningkatkan) semangat dan energi positip setiap hari sudah cukup buat saya.

every new beginning comes from some other beginning's end… happy 2010 everyone…


tentang desember, tentang rasa


desember bergerak menuju akhir…


saya begitu mencintai desember. ya… desember, dengan seluruh awan kelabu yang mengiasi langit menjelang akhir tahun ini, dengan tetesan air angkasa yang kerap membasahi tempat saya berpijak, dengan aroma tanah basah ketika hujan turun, atau dengan segala load pekerjaan yang tiba-tiba memuncak di penghujung tahun. saya menikmatinya…

beberapa pesan singkat terhambat masuk ke inbox saya yang sudah dipenuhi oleh ribuan sms sebelumnya. saya memang malas menghapusnya satu persatu atau sekedar menghapusnya melalui pc atau laptop. lebih baik mengkosongkan space lagu ataupun foto pada handphone daripada harus membuang sms-sms yang saya rasa penting. tapi sepertinya saat ini saya harus tega ‘membuang’ beberapa puluh pesan singkat dari handphone saya. ketika memilah-milih sms mana yang harus dihapus, saya tersenyum membaca deretan pesan singkat di desember dua tahun lalu. pengirimnya nomor yang sudah saya hafal luar kepala, karena saya memilihkannya sembilan tahun yang lalu! dan cerita masa lalu itu meluncur lagi di desember. cerita tentang rasa.


desember dua tahun yang lalu…

perlahan tapi pasti, saya mulai kembali pada putaran alur rasa dan cerita lalu, dengan subyek yang sama. saya dan dia. awalnya memang hanya sebuah pesan singkat yang mengabarkan kondisi kesehatan ayahnya yang drop sehingga dengan terpaksa harus istirahat di rumah sakit sementara waktu. tapi ternyata itulah awal perjalanan baru kami, karena setelah itu segalanya berlanjut. perlahan bergerak, mengalir tenang perlahan entah menuju mana. saat itu saya hanya mencoba mengikutinya, mengalir bak air… (ah, padahal di jaman sekarang ini aliran air pun harus di arahkan agar tidak menggenang menjadi banjir besar, bukan? hehehe…)

mengutip tulisan dewi lestari, mungkin beginilah rasanya hati yang tak perlu memilih, tetapi dipilih. baik saya maupun dia sama-sama tidak pernah memilih untuk kembali ke jalinan ini. kami kembali bukan karena salah satu dari kami memilih untuk kembali. kami kembali karena kami saling membutuhkan, saling mengisi. dan rasanya belum terlambat untuk memulai lagi semuanya dari awal…


hari ini, saat ini…

libur long wiken kali ini saya habiskan dengan bermalasan bersama portege di tempat tidur sambil menulis tulisan ini. saya sedang menantinya pulang setelah tugas kantor mengharuskannya meninggalkan saya sendiri di wiken ini. saya rindu, rindu kejahilannya, rindu canda dan tawanya, bahkan rindu diamnya. saya menantinya pulang dan bersiap menyambutnya bersama perut buncit saya yang telah memasuki minggu ke delapan belas.

saya begitu mencintai desember... dan juga dia...

--menyadari betapa berharganya hal-hal kecil saat hati terpisah oleh jarak walau hanya hitungan puluhan jam... miss you, ay... :-*