Showing posts with label kepada kata. Show all posts
Showing posts with label kepada kata. Show all posts

tentang desember, tentang rasa


desember bergerak menuju akhir…


saya begitu mencintai desember. ya… desember, dengan seluruh awan kelabu yang mengiasi langit menjelang akhir tahun ini, dengan tetesan air angkasa yang kerap membasahi tempat saya berpijak, dengan aroma tanah basah ketika hujan turun, atau dengan segala load pekerjaan yang tiba-tiba memuncak di penghujung tahun. saya menikmatinya…

beberapa pesan singkat terhambat masuk ke inbox saya yang sudah dipenuhi oleh ribuan sms sebelumnya. saya memang malas menghapusnya satu persatu atau sekedar menghapusnya melalui pc atau laptop. lebih baik mengkosongkan space lagu ataupun foto pada handphone daripada harus membuang sms-sms yang saya rasa penting. tapi sepertinya saat ini saya harus tega ‘membuang’ beberapa puluh pesan singkat dari handphone saya. ketika memilah-milih sms mana yang harus dihapus, saya tersenyum membaca deretan pesan singkat di desember dua tahun lalu. pengirimnya nomor yang sudah saya hafal luar kepala, karena saya memilihkannya sembilan tahun yang lalu! dan cerita masa lalu itu meluncur lagi di desember. cerita tentang rasa.


desember dua tahun yang lalu…

perlahan tapi pasti, saya mulai kembali pada putaran alur rasa dan cerita lalu, dengan subyek yang sama. saya dan dia. awalnya memang hanya sebuah pesan singkat yang mengabarkan kondisi kesehatan ayahnya yang drop sehingga dengan terpaksa harus istirahat di rumah sakit sementara waktu. tapi ternyata itulah awal perjalanan baru kami, karena setelah itu segalanya berlanjut. perlahan bergerak, mengalir tenang perlahan entah menuju mana. saat itu saya hanya mencoba mengikutinya, mengalir bak air… (ah, padahal di jaman sekarang ini aliran air pun harus di arahkan agar tidak menggenang menjadi banjir besar, bukan? hehehe…)

mengutip tulisan dewi lestari, mungkin beginilah rasanya hati yang tak perlu memilih, tetapi dipilih. baik saya maupun dia sama-sama tidak pernah memilih untuk kembali ke jalinan ini. kami kembali bukan karena salah satu dari kami memilih untuk kembali. kami kembali karena kami saling membutuhkan, saling mengisi. dan rasanya belum terlambat untuk memulai lagi semuanya dari awal…


hari ini, saat ini…

libur long wiken kali ini saya habiskan dengan bermalasan bersama portege di tempat tidur sambil menulis tulisan ini. saya sedang menantinya pulang setelah tugas kantor mengharuskannya meninggalkan saya sendiri di wiken ini. saya rindu, rindu kejahilannya, rindu canda dan tawanya, bahkan rindu diamnya. saya menantinya pulang dan bersiap menyambutnya bersama perut buncit saya yang telah memasuki minggu ke delapan belas.

saya begitu mencintai desember... dan juga dia...

--menyadari betapa berharganya hal-hal kecil saat hati terpisah oleh jarak walau hanya hitungan puluhan jam... miss you, ay... :-*

kembali tanpa jejak

saya baik-baik saja, masih tetap di tempat yang sama dengan aktivitas yang kurang lebih masih sama. walau kini entah blogging menjadi prioritas nomor berapa dalam keseharian saya. banyak hal terjadi dalam bulan belakangan yang merubah segalanya, akan saya ceritakan nanti.

blog ini memang terbengkalai, tapi saya masih kerap mengunjunginya walau tanpa jejak tulisan. tapi saya akan kembali lagi suatu hari nanti dengan jejak cerita lain.

have nice day, people… :)

b.e.l.i.e.v.e


saya percaya ini semua ada maksudnya,
saya percaya ada hikmah di balik ini semua,
saya percaya tidak ada sesuatu sia-sia yang telah digariskan olehNya...
...saya percaya...
dan saya akan tetap menunggu jawab atas semua pertanyaan ini,

hingga saatnya tiba...

boleh kan aku sedih?

aku ingin menangis.
tapi tolong, jangan dulu kau tanya ”kenapa?”
cukup di situ, jangan mendekat...

karena kau tahu kan...
superman saja has the right to bleed bisa terluka,
hati wonder womanpun bukan terbuat dari besi dan baja...
apalagi aku...

aku rindu

aku rindu...
menunggu kantuk malam di bawah temaram lampu kamar,
sambil mendengar riuh kisahmu di ujung selularku...
atau sekedar menyusun kata pada pesan singkat sambil menunggu datangnya lelap yang akan melarutkanku ke alam mimpi...

aku rindu...
pada sepenggal kisah di balik gelas-gelas kopi yang telah kita habiskan malam ini sambil berbagi cerita tentang apa yang sedang kita lakukan demi mengejar cita-cita...
atau episode tertawa bersama di bawah sorot lampu jalan yang menerangi tempat kita duduk sambil menikmati makanan khas malam di kota kecil itu...

aku rindu...
berada pada satu dimensi dimana senyum dan sapa hangat selalu kutemui di panasnya hari, di dinginnya malam bahkan di derasnya hujan yang penah ku lalui...
aahh...pesona itu selalu memaksaku untuk merindunya, walau ku tahu kini jarak dan waktu kian terbentang...

aku rindu...
mendengar untaian tuturmu yang hangat, membuka kotak ingatanku akan masa kecil dimana selalu kau ceritakan kisah tentang kleting kuning yang menemaniku menghabiskan segelas susu sebelum tidur siangku...

sayang, sahabat, solo dan simbah putri...
aku rindu... rindu sekali....