kemarin saya mendapat panggilan interview untuk hari ini dari sebuah developer besar yang akan memulai pengerjaan project baru --yang lokasinya tepat disebelah project saya saat ini--, setelah sebelumnya seminggu yang lalu saya mengirimkan CV begitu membaca iklan lowongannya di kompas.
tadi pada detik-detik yang telah disepakati untuk janji interview ternyata saya masih ada di proyek saya. bukan karena pekerjaan saya belum selesai. tapi karena bigboss saya yang pada hari biasa jarang datang ke proyek, tapi hari ini ndelalah banyak masalah di proyek dan masih-belum-pulang-juga-padahal-ini-hari-sabtu-dan-sudah-jam-empat-gitu-loh. sebenarnya bisa saja saya kabur dan melarikan diri untuk menyebrang ke kantor sebelah. atau berbohong mencari alasan mau ke dokter, mau kondangan atau apa kek. tapi karena keadaan yang amat sangat tidak memungkinkan akhirnya saya memutuskan tidak berangkat.
jujur saya sedih, saya menangis. saya kehilangan sebuah kesempatan untuk mencoba hal yang baru. kesedihan ini semakin terasa saat saya mengutuk diri saya sendiri yang tidak mencoba untuk berbohong, mencari alasan atau apa lah agar bisa menepati janji interview itu. saya benci dihadapkan pada situasi seperti ini, dan ini bukan untuk yang pertama kalinya.
hidup adalah selalu tentang pilihan dan memilih. tapi saya benci dihadapkan pada pilihan yang notabene sebenarnya bisa saya perjuangkan tetapi malah saya kubur dalam-dalam, pasrah dan tidak berusaha. katakanlah saya rakus atau kemaruk. sudah memiliki pekerjaan tapi kok masih mencoba ’flirting’ kesana-sini. manusia... selau tidak pernah merasa puas.
menghibur diri sendiri. saya teringat satu kalimat yang pernah saya dengar. saat satu pintu kita mulai tertutup, percayalah bahwa Tuhan akan membukakan pintu lain yang lebih besar, lebih lebar.
sore tadi mungkin Tuhan telah menutup kesempatan saya untuk dapat membuka pintu rejeki dari ’kantor sebelah’. tapi tanpa saya sadari, tadi pagi satu pintu saya yang lain telah dibuka-Nya lebih besar, lebih lebar. bagaimana tidak, sesaat setelah saya sampai kantor sebuah sms masuk ke hengpong saya.
papamu udh pulang dari bogor? besok papa mama kamu ada di rumah? kalo ada, papa mama ku mau silaturahmi ke cibubur, yang...
+62817946xxxx, 09 feb 2008, 09:38
dalam perjalanan pulang dari rumah mama yati tadi saya menangis. saya merasa bersalah telah bertanya ’kenapa-begini-kenapa-begitu’ kepada-Mu. betapa saya manusia yang tidak pandai mensyukuri segala yang telah Kau berikan.
maafkan saya, Gusti Allah. jadikanlah saya manusia yang lebih pandai bersyukur...
**saya percaya satu per satu pintu saya nantinya akan dibuka, dan semoga banyak rencana lain yang lebih indah untuk saya...**








2 comments:
Sabar Tan...kerjaan ngga bakal kemana kalo udah jodo. Asli deh...
huhu...jadi ikutan sedih nih! aku bs ngerasain secara pernah punya situasi yg mirip..dan meski udah lewat lam tp rasanya gelo bgt! ya mikir postif aja..pasti ada kesempatan yg lebih baik lagi..(sori ya rada sok bijak -- atau sotoy..bedanya tipis!hehe..)
Post a Comment