here i am

Tanggal 22 juni kemarin tepat satu tahun gw hengkang dari Solo dan kembali menetap di Jakarta, di rumah bonyok. Semenjak pulang lagi ke Jakarta setahun belakangan ini dan memulai babak baru hidup (bekerja), gw bener2 seperti kembali berkenalan dengan kota yang sudah lebih dari 17 tahun gw tempati. Ga tau kenapa, gw ngerasa pada awalnya agak2 kurang konek dan butuh waktu adaptasi dalam hitungan minggu untuk menghilangkan jetleg dan kembali terbiasa dengan ritme yang sangat jauh berbeda dengan hidup 6 tahun sebelumnya di Solo.

Buat gw Solo begitu banyak menyajikan segala kemudahan dalam scope-nya yang hanya sepersekian dari Jakarta. Gw ngerasa segala sesuatu di Solo sangat mudah di jangkau, sementara di Jakarta --lagi-lagi-- banyak faktor yang membuat segalanya menjadi begitu rumit dan ribet. Kalau di Solo, mau kemana-mana aja deket. Mau ke stasiun deket, mau ke terminal deket, mau ke mall deket, mau kemana kek... tinggal melangkahkan kaki dan dengan waktu maksimal gak sampe satu jam, kita sudah bisa menjangkau keseluruhan kota dari ujung Pabelan sampai ujung Palur. Hitung saja berapa banyak mall dan tempat belanja yang terlewati, berapa banyak rumah sakit yang terlampaui, berapa banyak spot asik buat nongkrong dan makan yang tersapu. Segalanya begitu simple, begitu mudah dijangkau dan masih ada bonus bebas macet (setidaknya bila dibandingkan dengan Jakarta). Contoh mudahnya menjangkau Solo pernah terbahas dalam satu komentar dari seorang sahabat asli Solo yang merasa heran dengan ’kelakuan’ salah seorang sahabat lain yang berasal dari Jakarta, yang hanya untuk membeli pulpen dan penggaris saja mesti berpetualang hingga ke gramed. Jawaban gw saat menanggapi komentarnya itu adalah ”lah terus mau beli kemana? Lagian gramed juga deket kok...”. Saat ini, saat sahabat gw yang asli Solo itu sudah ikut menetap dan bekerja di Jakarta, dia baru menemukan jawaban pertanyaan nya beberapa tahun yang lalu itu dan merasakan sendiri bagaimana rasanya membeli pulpen dan penggaris sampai ke Gramed Matraman, padahal kos nya di Kalibata.. ^^

Yup... Thats Solo. Sangat berbeda dengan Jakarta. Mungkin tidak berlebihan kalo gw sebut di Jakarta segala sesuatunya butuh kekuatan mental. Ya iya dong... Secara kalo mental gak kuat-kuat banget, mana mungkin orang di Jakarta rela bermacet-macet ria berjam-jam untuk sampai kantor setiap pagi dan masih harus terulang lagi sore harinya ketika pulang ke rumah... Kalau mental gak kuat-kuat banget, mana mungkin orang di Jakarta rela berdesakan di bis atau KRL dengan resiko kriminalitas yang tinggi... Kalau mental gak kuat-kuat banget, mungkin semua penduduk daerah langganan banjir di Jakarta sudah ramai-ramai pindah dari tempat ini... tapi mungkin ini yang disebut bagian dari dinamika hidup yang penuh perjuangan ^^. Banjir, macet dan tingginya angka kriminalitas rasanya tidak menjadi halangan bagi siapun yang memang berniat untuk survive disini.

Seperti juga gw, gw tetap cinta Jakarta! Gw belum bisa membayangkan bagaimana harus survive di kota lain, di kota yang sama sekali belum gw tau, di kota yang letaknya entah sudah pernah gw liat atau belum di peta dan di kota yang mungkin mendengar namanya aja gw belum pernah.

Yup... here i am. Satu tahun telah berlalu dan gw kembali hidup di Jakarta. Saat ini gw menjadi parasit lajang, tinggal di rumah bonyok --walaupun gak serumah dengan mereka--, makan + listrik gratis, baju tinggal pake (tanpa pusing mikir cuci dan setrika ^^) dan dengan kegiatan utama di rumah hanya sebatas tidur-bangun-makan-mandi-internetan saja. Hehehe...


**Catatan kecil setelah setahun kembali ke Jakarta, also dedicated to my beloved city Jakarta… Selamat Ulang Tahun ke 480…

No comments: